Terima Kasih Sitaro, Terima Kasih SM-3T

Satu tahun, tidak terasa waktu menjadi bagian dari Program SM-3T telah saya lalui. Ada banyak hal yang saya dapatkan, yang tidak mungkin diperoleh di tempat lain. Saya belajar banyak tentang bagaimana menghadapi perbedaan agama, suku bangsa, dan adat istiadat. Bagaimana belajar menjadi kuat, belajar konsisten, tanggung jawab, bahkan belajar tertawa di dalam tangisan.

Soloi, Alat untuk Mengangkut Hasil Kebun dan Sejenisnya, Terbuat dari Bambu

Soloi, Alat untuk Mengangkut Hasil Kebun dan Sejenisnya, Terbuat dari Bambu

Hari itu, adalah hari pertama saya menapaki tanah pengabdian, Mandolokang (Pulau Tagulandang) namanya. Tiba di daerah di mana muslim merupakan kaum minoritas menimbulkan keheranan bagi warga sekitar. Melibat lambaian jilbab saya oleh angin, ada beberapa anak kecil berteriak, “orang Islam, orang Islam..”. Ditambah lagi, di sekitar tempat saya tinggal,  berkeliaran- maaf  ‘anjing dan babi’, hati saya kecut, sempit rasanya, ada hening yang tidak enak muncul.

Malam itu, hening yang tidak enak muncul. Ingin rasanya menelpon keluarga di rumah. Sayangnya, tidak ada sinyal di Hp saya. Tidak ada listrik pula, dan tidak ada air untuk sholat di dalam rumah. Malam itu, saya belajar sepi yang paling sepi. Sendiri yang paling sendiri. Tapi kemudian, teringat banyak hal yang saya pelajari saat prakondisi, bagaimana bertahan di dalam keterbatasan. Menyadari hal itu, saya bangkit. Continue reading

Advertisements