Belajar Kehidupan : Sepotong Episode Guru-Guru  di Daerah Terpencil (SM-3T)

          

Berfoto dengan Pejabat Kapitalau (Kepdes) dan Ibu-Ibu PKK seusai acara senam (Dok. Slamet Sutikno)

Berfoto dengan Pejabat Kapitalau (Kepdes) dan Ibu-Ibu PKK seusai acara senam (Dok. Slamet Sutikno)

Menjadi pengajar di daerah terpencil bukan berarti kami hanya mengajar di sekolah dan selesai. Guru SM-3T tidak melulu mengajar mata pelajaran matematika, ilmu alam, dan pelajaran yang wajib diberikan. Namun, kami berusaha untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Turut mencurahkan potensi yang kami miliki untuk perkembangan lingkungan sekitar. Biasanya, warga tidak sungkan-sungkan melibatkan kami dalam kepanitiaan acara-acara yang diselenggarakan. Seperti lomba desa atau upacara adat.

Selain mengikuti kegiatan yang diadakan desa, kami juga menggagas kegiatan atas inisiatif sendiri. Tidak mudah melakukan hal semacam ini sendirian. Oleh karena itu, beberapa program kemasyarakatan dilakukan secara berkelompok. Kelompok terdiri dari beberapa teman guru SM-3T yang jarak tugasnya berdekatan. Nah, cerita saya kali ini tentang senam sehat, program kelompok Guru SM-3T Pulau Tagulandang

            Senam Sehat (SS) ini kami adakan karena melihat masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Kami bisa melihat dari banyaknya warga yang mengalami kelebihan kolesterol dan obesitas. Apalagi pasca tahun baru, meningkat warga yang mengalami penyakit di atas. Karena selama tahun baru hari-hari dipenuhi kue mentega, minuman bersoda dan daging-daging berlemak. Senam ini kami selenggarakan di empat kampung di dua kecamatan. Kampung Mohongsawang, Kampung Kisihang, Kampung Laingpatehi berada di Kecamatan Tagulandang. Dan Kampung Bawoleu di Kecamatan Tagulandang Utara.  Meski kelihatannya sederhana, namun banyak pelajaran hidup yang dapat saya petik dari kegiatan ini.

  1. Kampung Mohongsawang (Repotnya Membuat Banner Manual)

Kampung ini merupakan tempat pertama melaksanakan program. Wajar saja, kami semua deg-degan berharap warga antusias mengikuti. Kami membuat banner secara manual untuk kegiatan. Karena tidak ada tempat pembuatan banner di daerah kami yang masih tergolong 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Saat itu, saya dan beberapa teman lainnya sedang serius menggunting dan menempel huruf. Kemudian, huruf yang telah kami tempel ternyata dibongkar ulang oleh salah satu teman kami.

Canda Tawa di Sela-Sela Menempel Huruf untuk Banner Senam

Canda Tawa di Sela-Sela Menempel Huruf untuk Banner Senam (Dok. SM-3T Pulau Tagulandang)

Dia asyik menempel sendiri, mengukur jarak antar huruf, pun juga ketinggiannya. Sedangkan kami sudah tidak sabar dan terlanjur sebal hasil pekerjaan yang kami buat dibongkar olehnya. Tapi, teman kami itu tetap kekeh. Bahwa katanya, harus “presisi”, agar enak dilihat.

Tuturnya, presisi artinya ketepatan ukuran. Jarak antara huruf satu dan lainnya harus sama, dan ketinggian harus sama. Berbekal penggaris dan pensil, terbukti hasil tempelannya sangat rapi dan indah dipandang mata. Meski membutuhkan waktu yang lama. Karena mendesak dan banner akan segera dipakai, maka kami pun membantu menempel hanya dengan mengikuti garis bawah. Untuk urusan ketinggian dan jarak hanya memakai insting. Mungkin karena waktu yang sudah mepet, si teman penggagas presisi tidak protes lagi. Akhirnya banner pun jadi. Senam di kampung ini berlangsung lancar dan warga antusias. Meski acara molor satu jam untuk menunggu kedatangan warga. Hari itu, saya jadi mengerti tentang peran “presisi” dalam kehidupan.

Antusiasme Warga dalam Mengikuti Senam (Dok. SM-3T Pulau Tagulandang)

Antusiasme Warga dalam Mengikuti Senam (Dok. SM-3T Pulau Tagulandang)

Pelajaran yang saya ambil : presisi (ketepatan atau ketelitian) sangat penting diterapkan dalam kehidupan. Agar sesuatu yang kita kerjakan menjadi sempurna tanpa cela. Namun ada saatnya, adanya sesuatu yang biasa-biasa saja lebih dibutuhkan daripada kesempurnaan sesuatu yang tidak ada. Dan kesempurnaan adalah hasil dari perencanaan yang matang, bukan dari proses yang singkat.

  1. Kampung Kisihang (Tiba-Tiba Datang Hujan)

Persiapan kegiatan senam di Kampung Kisihang dilakukan jauh lebih matang dari sebelumnya. Semua Guru SM-3T berlatih senam bersama agar lebih percaya diri di depan warga. Semua perlengkapan seperti sound system, banner (telah dibuat di Kota Manado), dan konsumsi telah siap. Pengumuman kepada warga telah disebar.

Ketika semua siap, tiba-tiba turun hujan beberapa menit sebelum kami menuju lokasi diadakan senam. Setelah melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya, saat itu kami hanya pasrah. Bisa apa kita dengan takdir Tuhan? Tentu saja hanya bisa berdoa 🙂

Ternyata, Tuhan menjawab doa kami. Hujan reda, setelah hampir satu jam lamanya mengguyur tanah Kisihang.  Saat itu, kami nekat tetap menggadakan senam. Meski rumput-rumput masih berair dan lapangan digenangi air hujan. Setelah membersihkan genangan air. Kami pun memulai senam. Bersyukur sekali masih ada warga yang mau datang pasca hujan. Meski tidak sebanyak di Kampung Mohongsawang.

DSCF7614

Kebersamaan Guru-Guru SM-3T dengan Peserta Senam di Kampung Kisihang (Dok. Yukoiri Hidayat)

Pelajaran yang saya ambil : sekeras apapun usaha kita, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Namun, apapun hasilnya, kita tidak akan menyesal. Karena kita telah melakukan dengan sebaik-baik apa yang kita bisa 🙂

  1. Kampung Bawoleu (Susahnya Bertemu Air)

Acara senam di tempat ketiga cukup lancar. Persiapan dilakukan seperti biasanya. Hanya untuk antisipasi warga enggan datang karena hujan seperti sebelumnya, maka kami menyusun strategi baru. Yaitu, kami mengundang langsung beberapa organisasi masyarakat seperti ibu-ibu PKK, dan jemaat gereja. Acara terselenggara cukup lancar dan peserta senam sangat antusias. Hanya saja, teman-teman Guru SM-3T mengalami kekurangan air saat hendak wudhu untuk sholat.

Ini terjadi karena saya melupakan detail itu. Padahal ini sesuatu yang penting karena berhubungan dengan ibadah wajib kami. Hari sebelumnya, saya hanya mengambil air di tumtepa (sumur alami di dekat perkebunan salak) hanya untuk saya sendiri. Lupa kalau ada teman-teman yang akan sholat di rumah tinggal saya. Sehingga, beberapa teman harus mengambil air sendiri.

Pelajaran yang saya ambil: Jangan karena memikirkan hal-hal penting yang bersifat keduniaan, kita jadi lupa hal-hal yang mendukung terlaksananya ibadah kita pada Tuhan.

  1. Kampung Laingpatehi (Mandi Air Payau)

Senam di Kampung Laingpatehi tergolong sangat sukses, karena hampir tidak ada kekurangan. Hanya yang menarik, saya dan teman-teman lainnya mendapat pengalaman baru.

Kami harus mandi dengan air payau. Air yang rasanya asin dan sedikit lengket di badan. Dan, tentunya saya sedikit was-was untuk pertama kalinya memijakkan kaki di Gunung Berapi Ruang. Mengingat sekitar beberapa bulan sebelumnya ada peringatan “waspada” tentang aktivitas gunung. Tapi kegiatan di daerah ini juga lancar dan damai sentosa.

Suasana Senam di Kampung Laingpatehi (Dok. SM-3T Pulau Tagulandang)

Suasana Senam di Kampung Laingpatehi (Dok. SM-3T Pulau Tagulandang)

Pelajaran yang saya ambil : Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tidak mau. Tapi kita harus melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Dan, kenyataannya saat kita melakukannya, itu tidak seburuk yang kita bayangkan. Contohnya saat mandi air payau.

Selain program senam, cerdas cermat, dan bersih pantai yang terlaksana, ada program yang tidak terlaksana. Salah satunya adalah audisi Pemilihan Pendeta Kecil. Pada awalnya, rencana pelaksanaan program berjalan lancar. Proposal telah disusun dan disetujui oleh Kepala UPTD. Dikpora Tagulandang. Sumber dana pun mulai kami kumpulkan. Salah satunya dari hasil menjual foto kegiatan sekolah untuk membiayai acara. Namun saat kami mulai merasa optimis, ternyata ada pihak yang tidak menyetujui. Akhirnya, kegiatan pun tidak terlaksana. Tapi, kami tetap tidak berkecil hati. Karena kami tahu, Tuhan lebih tahu mana yang lebih baik bagi kami.

Itulah sepotong episode perjuangan Guru-Guru SM-3T di Pulau Tagulandang. Apapun yang dilakukan bersama-sama, tentunya akan lebih ringan . Dan ketika semuanya berlalu, pahit manis kenangan yang dilalui bersama akan selalu terkenang dan menjadi episode yang tidak terlupakan. Salam Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

Dipersembahkan untuk:

Andi Nur Khazanah, Andi Wahyuni, Elis Noviana Puspitadevi, Elone Asiani, Eva Mavitaningtyas, Ervan, Ferry Budi Arifiyanto, Ratna Syafitri,  Slamet Sutikno, dan Yukoiri Hidayat.

“Selamat jalan teman tetaplah berjuang semoga kita bertemu kembali. Kenang masa indah kita, sebiru hari ini”

(Edcoustic)

Advertisements

14 thoughts on “Belajar Kehidupan : Sepotong Episode Guru-Guru  di Daerah Terpencil (SM-3T)

  1. Inspiratif sekali mba..
    Aku belum bsa ngecek satu2 postingan mba, tapi ada gak ya tulisan tentang tips trik atau semacamnya supaya bisa lolos SM3T?
    Aku pingin banget ikutan..

    Liked by 1 person

  2. Oh ya mba, aku belum liat postingan mba semua, tapi aku nanya aja ya. Adakah tulisan ttg trip n triks atau semacamnya supaya lolos seleksi SM3T?
    Salam kenal dan terimakasih mba 🙂

    Liked by 1 person

  3. Pingback: Mengeksplorasi Keindahan Pantai Toka Kecil : Pilih Jalan Darat atau Laut ? | JEJAK LANGKAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s