Terima Kasih Sitaro, Terima Kasih SM-3T

Satu tahun, tidak terasa waktu menjadi bagian dari Program SM-3T telah saya lalui. Ada banyak hal yang saya dapatkan, yang tidak mungkin diperoleh di tempat lain. Saya belajar banyak tentang bagaimana menghadapi perbedaan agama, suku bangsa, dan adat istiadat. Bagaimana belajar menjadi kuat, belajar konsisten, tanggung jawab, bahkan belajar tertawa di dalam tangisan.

Soloi, Alat untuk Mengangkut Hasil Kebun dan Sejenisnya, Terbuat dari Bambu

Soloi, Alat untuk Mengangkut Hasil Kebun dan Sejenisnya, Terbuat dari Bambu

Hari itu, adalah hari pertama saya menapaki tanah pengabdian, Mandolokang (Pulau Tagulandang) namanya. Tiba di daerah di mana muslim merupakan kaum minoritas menimbulkan keheranan bagi warga sekitar. Melibat lambaian jilbab saya oleh angin, ada beberapa anak kecil berteriak, “orang Islam, orang Islam..”. Ditambah lagi, di sekitar tempat saya tinggal,  berkeliaran- maaf  ‘anjing dan babi’, hati saya kecut, sempit rasanya, ada hening yang tidak enak muncul.

Malam itu, hening yang tidak enak muncul. Ingin rasanya menelpon keluarga di rumah. Sayangnya, tidak ada sinyal di Hp saya. Tidak ada listrik pula, dan tidak ada air untuk sholat di dalam rumah. Malam itu, saya belajar sepi yang paling sepi. Sendiri yang paling sendiri. Tapi kemudian, teringat banyak hal yang saya pelajari saat prakondisi, bagaimana bertahan di dalam keterbatasan. Menyadari hal itu, saya bangkit. Continue reading

Advertisements

Ebi Miskin Ibu, Bolehkah Bercita-Cita?

Anak-anak, usia yang kukira mereka bisa bebas, belum merasakan banyaknya tanggung jawab layaknya orang dewasa. Mereka bebas bermimpi, bercita-cita, tidak ada yang melarang, tepatnya belum ada hal yang membuat mereka tidak boleh kelak jadi ini itu. Hari ini sabtu pagi, aku akan mengisi kelas pengembangan diri dan tema yang kuambil adalah cita-cita. Aku suka memulai semuanya dengan menanyakan cita-cita. Karena biasanya anak-anak akan dengan bersemangat dengan hal itu.

Ya, seperti yang kuduga, murid-murid yang terdiri dari kelas IV, V, dan IV ini dengan bersemangat mengatakan cita-citannya, nyaris berteriak, saking bersemangatnya. Kumpulan anak laki-laki banyak yang bercita-cita menjadi tentara, meski ada beberapa pula yang mengidamkan menjadi polisi dan pilot di masa depan. Berbeda dengan murid laki-laki, murid perempuan mengaku ingin menjadi dokter, perawat, bidan, dan guru.

Di tengah riuhnya kelas, kini tiba seorang murid berperawakan kurus tinggi. Kulitnya putih dan rambutnya rapi yang nampak diolesi minyak rambut. Anak ini dari kelas IV, sehari-hari periang seperti anak-anak lain. Namun hari ini berbeda, saat kutanya apa cita-citanya, dia hanya duduk menundukkan kepala.

Aku berjalan mendekati tempat duduknya dan bertanya, “Ebi kamu sakit?”. Yang ditanya hanya menggeleng singkat. Lalu kutanya lagi, “lalu kenapa Ebi?”. Ebi memandangku sebentar dan berkata, “Ebi orang miskin Ibu, bolehkah bercita-cita?. Mama Ebi bilang, cita-cita mahal harganya Ibu”.

            Setelah itu, aku mengatakan kepada murid-muridku bahwa cita-cita tidak hanya diraih dengan uang. Pun aku berikan contohnya, sekolah tidak perlu diraih dengan uang. Karena di kepulauan ini, sekolah dari jenjang SD sampai dengan SMA gratis. Cita-cita akan dapat kita raih dengan kesungguhan belajar, berusaha, dan berdoa. Tidak ada yang boleh takut bercita-cita, karena Tuhan akan memberikan yang terbaik sesuai usaha dan doa umatnya.

Continue reading

Ibu, Ayah Mengajak Saya ‘Mabuk’

Tidak terpungkiri, adat kebiasaan masyarakat di berbagai belahan Indonesia sangata beragam. Pun begitu di tempat saya bertugas, Pulau Tagulandang. Di sini, kebiasaan yang menurut saya tidak lazim seperti minum alkohol, justru merupakan kegiatan sehari-hari yang wajar dilakukan, kapan pun di manapun.  Momen minum bersama ini bisa mudah kita jumpai, seperti saat tukang bangunan istirahat, mereka menggunakan waktunya untuk minum Cap Tikus. Cap Tikus adalah istilah atau merek minuman beralkohol yang populer di masyarakat. Bahkan, setelah ibadah selesai, ada beberapa orang yang menutup kegiatan itu dengan minum.

aaaaaa

Tugas Siswa: Menceritakan dirinya dihimbau untuk minum alkohol oleh orang tuanya

Anehnya, kebiasaan tidak lazim ini berusaha keras diturunkan kepada anak-anaknya yang masih usia sekolah. Usia SMP, SMA di sini terlihat wajar jika mereka pulang sekolah dalam keadaan teler. Banyak kenakalan dan kejahatan remaja yang ditimbulkan akibat hal ini, namun anehnya masyarakat masih saja menganggapnya wajar. Continue reading

Selamat !!! Kalian Boleh Pergi, Kejarlah Mimpi !!!

Keberhasilan seorang guru adalah ketika siswanya berhasil menamatkan jenjang pendidikan yang sedang ditempuhnya. Hari ini, Guru SD Gmist Sion Bawoleu telah menyelesaikan kewajiban kepada siswa kelas VI dengan baik, terlepas apa saja kesalahan yang mereka perbuat pada murid selama di sekolah. Tepat pukul 10.00 (4/7), diumumkan bahwa keseluruhan siswa kelas VI telah dinyatakan lulus.

Perjuangan Kita

Ujian sekolah adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh guru dan murid kelas VI di sekolah kami. Banyak hal yang disipakan untuk menghadapi ujian itu. Salah satunya adalah pelajaran tambahan di luar jam sekolah, try out, dan drill-drill soal yang dilakukan di tiga mata pelajaran khususnya matematika. Hampir setiap minggu, tidak kurang dari 4 jam tambahan pelajaran matematika diberikan di luar kelas. Meski kondisi sekolah yang tidak memungkinkan, karena sementara ada pembangunan. Tapi guru dan siswa tetap bersemangat dengan kondisi seadanya.aaaa

Tetap belajar: Di tengah pembangunan yang masih setengah jadi, siswa kelas VI melakukan pelajaran tambahan dengan fasilitas seadanya. Continue reading

SATU SEKOLAH, SATU GURU

20150326_080644

Siswa kelas 1 pun turut membersihkan kelas (doc. pribadi)

Harus siap dengan kondisi apapun, itulah salah satu kunci yang harus dipegang oleh guru di daerah terpencil. Tidak hanya siap menghadapi lingkungan sosial yang amat berbeda, tapi segala hal. Jangan membayangkan di sekolah-sekolah daerah terpencil bumi pertiwi ini sama sekali tidak ada guru. Hingga pemerintah susah payah mencanangkan berbagai program untuk mengirim guru-guru dari kota ke daerah terpencil. Di atas kertas, sekolah tempatku mengabdi ada tidak kurang dari enam Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan satu orang guru honorer. Tapi kenyataan di lapangan, guru sebanyak itu biasanya hanya hadir dua atau tiga orang saja, dan itupun di hari senin hingga kamis saja. Bahkan, mereka biasanya datang terlambat.

Pengalaman yang aku alami, hari itu bernama Kamis, pukul 8.00 guru yang hadir hanya aku. Kebetulan Kepala Sekolah kami sedang mengikuti Rakor di Kabupaten selama kurang lebih satu minggu, dan selama itu pula guru-guru di sekolahku yang datang hanya dua, tiga orang. Memang ada alasan yaitu sakit, ijin ke pasar karena ada acara, dan ada beberapa yang tidak ada kabar. Besoknya, mereka datang dengan penjelasan sakit tiba-tiba dan lainnya. Memang tidak bisa disangkal karena kami tidak bisa berkomunikasi lantaran tidak ada sinyal di tempat tugasku. Continue reading

SATU, DUA, DAN HANYA TIGA SISWAKU

satu dari tiga muridku yang datang ke sekolah (doc. pribadi)

satu dari tiga muridku yang datang ke sekolah (doc. pribadi)

Pulau Tagulandang, tempat ku mengabdikan segenap ilmu di tanah rantau ini bukan hanya masuk dalam jajaran pulau terdepan, terluar, dan tertinggal. Tetapi merupakan daerah yang bisa dibilang rawan bencana alam seperti gempa, angin kencang, dekat gunung berapi yang masih aktif yang kadang menghawatirkan, serta hujan lebat.
Dalam enam bulan terakhir telah terjadi tak kurang dari belasan gempa dari kekuatan ringan hingga sedang. Selain itu angin kencang sering menumbangkan pohon-pohon di pinggir-pinggir jalan.

Gempa yang terjadi di sekolahku suatu kali menumpahkan buku-buku dari rak, menumpahkan teh dari cangkir, dan menjatuhkan LCD komputer dari meja. Sehingga, tak heran kalau warga masyarakat lebih sering tidak mengijinkan putera-puterinya bersekolah saat cuaca tidak menentu. Suatu hari, dari keenam kelas hanya ada tiga orang siswa yang masuk sekolah.

Continue reading