SATU SEKOLAH, SATU GURU

20150326_080644

Siswa kelas 1 pun turut membersihkan kelas (doc. pribadi)

Harus siap dengan kondisi apapun, itulah salah satu kunci yang harus dipegang oleh guru di daerah terpencil. Tidak hanya siap menghadapi lingkungan sosial yang amat berbeda, tapi segala hal. Jangan membayangkan di sekolah-sekolah daerah terpencil bumi pertiwi ini sama sekali tidak ada guru. Hingga pemerintah susah payah mencanangkan berbagai program untuk mengirim guru-guru dari kota ke daerah terpencil. Di atas kertas, sekolah tempatku mengabdi ada tidak kurang dari enam Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan satu orang guru honorer. Tapi kenyataan di lapangan, guru sebanyak itu biasanya hanya hadir dua atau tiga orang saja, dan itupun di hari senin hingga kamis saja. Bahkan, mereka biasanya datang terlambat.

Pengalaman yang aku alami, hari itu bernama Kamis, pukul 8.00 guru yang hadir hanya aku. Kebetulan Kepala Sekolah kami sedang mengikuti Rakor di Kabupaten selama kurang lebih satu minggu, dan selama itu pula guru-guru di sekolahku yang datang hanya dua, tiga orang. Memang ada alasan yaitu sakit, ijin ke pasar karena ada acara, dan ada beberapa yang tidak ada kabar. Besoknya, mereka datang dengan penjelasan sakit tiba-tiba dan lainnya. Memang tidak bisa disangkal karena kami tidak bisa berkomunikasi lantaran tidak ada sinyal di tempat tugasku. Continue reading

Advertisements

SATU, DUA, DAN HANYA TIGA SISWAKU

satu dari tiga muridku yang datang ke sekolah (doc. pribadi)

satu dari tiga muridku yang datang ke sekolah (doc. pribadi)

Pulau Tagulandang, tempat ku mengabdikan segenap ilmu di tanah rantau ini bukan hanya masuk dalam jajaran pulau terdepan, terluar, dan tertinggal. Tetapi merupakan daerah yang bisa dibilang rawan bencana alam seperti gempa, angin kencang, dekat gunung berapi yang masih aktif yang kadang menghawatirkan, serta hujan lebat.
Dalam enam bulan terakhir telah terjadi tak kurang dari belasan gempa dari kekuatan ringan hingga sedang. Selain itu angin kencang sering menumbangkan pohon-pohon di pinggir-pinggir jalan.

Gempa yang terjadi di sekolahku suatu kali menumpahkan buku-buku dari rak, menumpahkan teh dari cangkir, dan menjatuhkan LCD komputer dari meja. Sehingga, tak heran kalau warga masyarakat lebih sering tidak mengijinkan putera-puterinya bersekolah saat cuaca tidak menentu. Suatu hari, dari keenam kelas hanya ada tiga orang siswa yang masuk sekolah.

Continue reading