Legitnya Puding Hercules Khas Ujung Utara Indonesia

Makanan, selalu saja menjadi topik hangat yang akan menyatukan segala wujud rupa masyarakat. Ketika membicarakan makanan, semua orang dalam berbagai suku, agama, bahkan ras akan bersatu dan membaur dalam kehangatan keluarga. Itulah yang kami, para perantau rasakan di Pulau Tagulandang ini. Bertukar resep makanan, salah satunya puding yang khas di tempat ini. Berikut ulasannya.

bb            Penganan yang umumnya berwarna kuning cerah ini merupakan kegemaran semua usia dari anak-anak sampai dewasa di Pulau Tagulandang. Warna kuning berasal dari jagung manis yang dihaluskan. Selain rasa yang enak, nama puding ini juga unik. Namanya Hercules, mengadopsi nama merk tepung yang umum digunakan untuk campuran dalam pembuatan puding.

            Saat makanan ini memasuki rongga mulut, kelembutan pun terasa. Kelembutan puding ini berasal dari satu kaleng susu kental manis dan agar-agar. Selain itu, rasa gurih yang khas akan tercium dan menambah legitnya puding. Santan kental adalah muasal dari rasa gurih dalam Puding Hercules. Bahan-bahan lain untuk membuat puding ini adalah gula, dan tepung maizena.

Continue reading

Advertisements

Ebi Miskin Ibu, Bolehkah Bercita-Cita?

Anak-anak, usia yang kukira mereka bisa bebas, belum merasakan banyaknya tanggung jawab layaknya orang dewasa. Mereka bebas bermimpi, bercita-cita, tidak ada yang melarang, tepatnya belum ada hal yang membuat mereka tidak boleh kelak jadi ini itu. Hari ini sabtu pagi, aku akan mengisi kelas pengembangan diri dan tema yang kuambil adalah cita-cita. Aku suka memulai semuanya dengan menanyakan cita-cita. Karena biasanya anak-anak akan dengan bersemangat dengan hal itu.

Ya, seperti yang kuduga, murid-murid yang terdiri dari kelas IV, V, dan IV ini dengan bersemangat mengatakan cita-citannya, nyaris berteriak, saking bersemangatnya. Kumpulan anak laki-laki banyak yang bercita-cita menjadi tentara, meski ada beberapa pula yang mengidamkan menjadi polisi dan pilot di masa depan. Berbeda dengan murid laki-laki, murid perempuan mengaku ingin menjadi dokter, perawat, bidan, dan guru.

Di tengah riuhnya kelas, kini tiba seorang murid berperawakan kurus tinggi. Kulitnya putih dan rambutnya rapi yang nampak diolesi minyak rambut. Anak ini dari kelas IV, sehari-hari periang seperti anak-anak lain. Namun hari ini berbeda, saat kutanya apa cita-citanya, dia hanya duduk menundukkan kepala.

Aku berjalan mendekati tempat duduknya dan bertanya, “Ebi kamu sakit?”. Yang ditanya hanya menggeleng singkat. Lalu kutanya lagi, “lalu kenapa Ebi?”. Ebi memandangku sebentar dan berkata, “Ebi orang miskin Ibu, bolehkah bercita-cita?. Mama Ebi bilang, cita-cita mahal harganya Ibu”.

            Setelah itu, aku mengatakan kepada murid-muridku bahwa cita-cita tidak hanya diraih dengan uang. Pun aku berikan contohnya, sekolah tidak perlu diraih dengan uang. Karena di kepulauan ini, sekolah dari jenjang SD sampai dengan SMA gratis. Cita-cita akan dapat kita raih dengan kesungguhan belajar, berusaha, dan berdoa. Tidak ada yang boleh takut bercita-cita, karena Tuhan akan memberikan yang terbaik sesuai usaha dan doa umatnya.

Continue reading

Kebiasaan “Baku Piara” dan Konsekuensinya di Pulau Tagulandang

Tidak dipungkiri, Indonesia memang kaya akan adat kebiasaan yang melingkupi masyarakatnya. Berbeda pulau, artinya berbeda pula adat kebiasaan yang ada di masyarakat. Pun, juga di Pulau Tagulandang. Suatu hari seorang murid bertanya kepadaku, “Ibu Siti, apakah di Jawa boleh baku piara?” Lama aku termenung sekedar untuk menjawab pertanyaan ini. Lalu aku berbalik bertanya, kenapa muridku bertanya hal itu.

Lebar senyum ia sunggingkan dan berkata, “Hanya ingin tahu ibu, apa di Jawa sama dengan di sini”. Lalu kujawab tidak diperbolehkan baku piara di Jawa. Pertanyaan mereka berlanjut, “Mengapa nyanda (tidak) boleh Ibu?” Lanjut kujawab dengan kerugian-kerugian yang akan didapat saat melakukan hal itu.

            Baku piara, atau bisa disebut berpelihara adalah salah satu kebiasaan yang ada di masyarakat Pulau Tagulandang Kabupaten Kepulauan Sitaro Provinsi Sulawesi Utara. Baku piara adalah berkumpulnya laki-laki dan perempuan asing (tidak ada ikatan persaudaraan) dalam satu rumah. Keduanya menjalani kehidupan layaknya suami istri. Hal ini sah-sah saja terjadi di tengah-tengah masyarakat Pulau Tagulandang, bahkan ada yang sampai puluhan tahun menjalaninya, hingga mempunyai anak bahkan cucu.

Kebiasaan ini sudah terjadi sejak lama dan turun-menurun sampai saat ini. Hal ini diakui Mama Febi, salah seorang warga yang ternyata tidak merasa terganggu atau pun risih dengan adanya kebiasaan baku piara. “Kalau memutuskan untuk tinggal bersama, artinya laki-laki secara langsung sudah mempunyai tanggung jawab terhadap perempuannya, begitu juga sebaliknya,” ungkap Ibu satu anak itu. Continue reading

Ibu, Ayah Mengajak Saya ‘Mabuk’

Tidak terpungkiri, adat kebiasaan masyarakat di berbagai belahan Indonesia sangata beragam. Pun begitu di tempat saya bertugas, Pulau Tagulandang. Di sini, kebiasaan yang menurut saya tidak lazim seperti minum alkohol, justru merupakan kegiatan sehari-hari yang wajar dilakukan, kapan pun di manapun.  Momen minum bersama ini bisa mudah kita jumpai, seperti saat tukang bangunan istirahat, mereka menggunakan waktunya untuk minum Cap Tikus. Cap Tikus adalah istilah atau merek minuman beralkohol yang populer di masyarakat. Bahkan, setelah ibadah selesai, ada beberapa orang yang menutup kegiatan itu dengan minum.

aaaaaa

Tugas Siswa: Menceritakan dirinya dihimbau untuk minum alkohol oleh orang tuanya

Anehnya, kebiasaan tidak lazim ini berusaha keras diturunkan kepada anak-anaknya yang masih usia sekolah. Usia SMP, SMA di sini terlihat wajar jika mereka pulang sekolah dalam keadaan teler. Banyak kenakalan dan kejahatan remaja yang ditimbulkan akibat hal ini, namun anehnya masyarakat masih saja menganggapnya wajar. Continue reading

Selamat !!! Kalian Boleh Pergi, Kejarlah Mimpi !!!

Keberhasilan seorang guru adalah ketika siswanya berhasil menamatkan jenjang pendidikan yang sedang ditempuhnya. Hari ini, Guru SD Gmist Sion Bawoleu telah menyelesaikan kewajiban kepada siswa kelas VI dengan baik, terlepas apa saja kesalahan yang mereka perbuat pada murid selama di sekolah. Tepat pukul 10.00 (4/7), diumumkan bahwa keseluruhan siswa kelas VI telah dinyatakan lulus.

Perjuangan Kita

Ujian sekolah adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh guru dan murid kelas VI di sekolah kami. Banyak hal yang disipakan untuk menghadapi ujian itu. Salah satunya adalah pelajaran tambahan di luar jam sekolah, try out, dan drill-drill soal yang dilakukan di tiga mata pelajaran khususnya matematika. Hampir setiap minggu, tidak kurang dari 4 jam tambahan pelajaran matematika diberikan di luar kelas. Meski kondisi sekolah yang tidak memungkinkan, karena sementara ada pembangunan. Tapi guru dan siswa tetap bersemangat dengan kondisi seadanya.aaaa

Tetap belajar: Di tengah pembangunan yang masih setengah jadi, siswa kelas VI melakukan pelajaran tambahan dengan fasilitas seadanya. Continue reading

Meriahnya “Rasa” Hari Raya, di Pulau Tagulandang

Tak jauh beda dengan hari raya-hari raya di Pulau Jawa, di Pulau Tagulandang pun kemeriahan hari raya amat terasa. Akan ada riuh suasana petasan, kembang api dan bunyi-bunyian khas Hari Raya. Ada pula pernak-pernik yang berbeda dari hari-hari biasanya di sekitar rumah. Satu lagi yang tak ketinggalan, di meja tamu tiap rumah rapi terjejer jajanan yang bakal memanja lidah. Hanya satu yang berbeda pada perayaan hari raya di kedua pulau yang sempat saya tempati ini, apakah itu?

Hari Raya di Pulau Jawa

Hari raya yang umum dirayakan di Pulau Jawa adalah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di antara keduanya, yang paling meriah dan ditunggu-tunggu adalah Hari Raya Idul Fitri. Karena umat Islam di saat itu meraih kemenangannya setelah berpuasa sebulan penuh. Saat takbir bergema, tanda hari itu datang, umat Islam berbondong-bondong ke masjid malam harinya untuk melaksanakan takbir missal. Ada pula yang merayakan dengan karnaval atau takbir keliling. Keesokan harinya, warga menunaikan sholat Idul Fitri. Setelahnya, dilanjutkan silaturrahmi yang penuh nuansa damai (saling maaf memaafkan). Tak ketinggalan, opor ayam dan makanan lezat pun terhidang di setiap rumah.

Suasana hari raya idul fitri di Pulau Jawa akan terasa sampai sekitar sebulan lamanya. Di mana, di setiap toa-toa masjid akan berdengung gema takbir di setiap saat. Di depan rumah pun terhias gantungan ketupat atau miniatur bedug, serta tulisan minal aidin wal faidzin yang menambah meriah suasana hari raya idul fitri atau yang biasa disebut lebaran itu.

Berbeda dengan Jawa, di Pulau Tagulandang, kaum muslim adalah minoritas. Satu pulau sebesar ini, hanya memiliki sebuah masjid. Mesjid itu terletak di Tagulandang Induk di sekitar kampung muslim yang hanya terdiri dari belasan kepala keluarga. Keluarga muslim kebanyakan berasal dari luar Pulau Tagulandang. Sebagian besar berasal dari Jawa Tengah dan Gorontalo, mereka datang ke Pulau ini untuk berdagang.

Jarak masjid dari kampung tempatku mengabdi ±13 Km. Dan lebih jauh lagi tempat teman seperjuanganku yang berada di ujung utara pulau ini, ±25 Km. Suasana lebaran, hanya akan terasa jika kita berada di kampung ini. Di luar itu, di Pulau ini lebaran hanya ada di kalender saja. Namun karena hal itu, keeratan kekerabatan dengan masyarakat muslim sangat terasa. Terasa mengharukan.

Continue reading